Standar Web
Content
Web content adalah isi sebuah website. Tanpa adanya
file-file halaman web dan file pendukung, maka domain dan hosting yang telah
kita miliki tidak akan menampilkan apa-apa jika diakses. Ini seperti memiliki
rumah baru yang sudah ada alamatnya tapi belum diisi perabot alias kosong. Berbeda
dengan domain dan hosting yang sangat mudah dimiliki serta tidak membutuhkan
skill khusus, konten website membutuhkan penanganan dan skill khusus.
Media dan standar
Media
Dalam produksi media dan
penerbitan, konten informasi dan pengalama dapat memberikan nilai bagi
end-user/audience dalam konteks tertentu. Konten dapat disampaikan melalui
media apapun seperti internet, televisi, dan CD audio, serta acara live seperti
konferensi dan pertunjukan panggung. Konten (media) digunakan untuk
mengidentifikasi dan menilai berbagai format dan genre informasi yang dikelola
sebagai nilai tambah, dan media komponen berguna untuk target audiens. Produksi
media dan teknologi pengiriman berpotensi meningkatkan nilai konten dengan
format, penyaringan dan menggabungkan sumber-sumber asli konten untuk hal yang
baru dengan konteks yang baru. Kurang penekanan pada nilai dari konten yang
disimpan, dan lebih menekankan pada repurposing cepat, pemakaian ulang, dan
pemindahan telah menyebabkan banyak penerbit dan produser media melihat fungsi
utama mereka kurang mempunyai banyak pembuat/pencipta dan lebih sebagai
transformer dari konten.
Standar
Standar merupakan spesifikasi
teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun
berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan
syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa
yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Standar web
merupakan suatu keharusan. Standar web satu sama lain saling tergantung,
beberapa di antaranya mengatur aspek internet, bukan hanya World Wide Web
(Sebuah Situs). Bahkan ketika web tidak terpantau, standar tersebut secara
langsung atau tidak langsung mempengaruhi perkembangan dan administrasi situs
web dan layanan web. Pertimbangannya adalah interoperabilitas, aksesibilitas
dan kegunaan dari halaman web dan situs web.
Standar web, dalam arti yang lebih luas, terdiri dari:
1. Recommendations published by the
World Wide Web Consortium (W3C).
2. Internet standard (STD) documents
published by the Internet Engineering Task Force (IETF).
3. Request for Comments (RFC)
documents published by the Internet Engineering Task Force.
4. Standards published by the
International Organization for Standardization (ISO).
5. Standards published by Ecma
International (formerly ECMA).
6. The Unicode Standard and various
Unicode Technical Reports (UTRs) published by the Unicode Consortium.
7. Name and number registries
maintained by the Internet Assigned Numbers Authority (IANA).
METADATA
Definisi Metadata
Jadi, apa itu metadata? Mengutip dari apa yang tertulis di
Wikipedia, metadata merupakan informasi yang mendeskripsikan tentang suatu
himpunan data. Metadata yang dberikan pada suatu himpunan data sifatnya tidak
akan mengubah isi atau inti dari data tersebut. Metadata akan memberikan suatu
informasi “tambahan” yang dapat memberikan peran lebih terhadap himpunan data.
Terhadap definisi metadata tersebut, Tony Gill menguraikan bahwa metadata
semestinya tidak hanya didefinisikan sebagai “data about data”
saja, karena pada perkembangannya suatu himpunan atau kumpulan metadata dapat
diperlakukan sebagai sebuah catalog, sebagai contoh Google yang memanfaatkan
hal ini. Sehingga Tony Gill memiliki definisi metadata sebagai “a structured description of the essential attributes of an
information object.”
Mengapa metadata penting? Menurut Anne J. Gilliland,
mengatakan bahwa pembuatan dan pemeliharaan metadata membutuhkan suatu usaha
yang tidak murah. Namun dengan adanya metadata dapat memberikan beberapa
kesempatan keuntungan yang akan diperoleh secara langsung maupun tidak,antara
lain: meningkatkan aksesibilitas, memelihara konteks informasi,
memperluas pemakaian sesumber informasi, dapat membantu siapapun untuk belajar
berdasar metadata, dapat membantu dokumentasi pengembangan sistem,
memfasilitasi pencarian, mendukung multi versi objek informasi, mendukung
masalah legalitas, serta untuk bertahan dari perubahan lingkungan sistem.
Melihat manfaat dari metadata tersebut, penerapannya dalam
memperlengkapi sumber informasi yang tersebar di Internet, seperti halaman web,
tentunya akan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat mengelola dan
mengakses metada-metadata yang “menempel” pada halaman web dengan mudah.
Sebenarnya metadata yang melekat pada sumber Informasi di web bagaikan sebuah
record data yang menyusun suatu database terdistribusi. Dengan jumlah miliaran
halaman web dan sumber informasi lain yang tersebar di Internet, tentunya saya
lebih setuju dengan definisi metadata yang disampaikan oleh Tony Gill.
Format Metadata untuk Web
Sebagian besar file format yang tersebar saat ini sudah
mendukung adanya metadata. Sebuah metadata yang melekat pada suatu file, pada
umumnya akan mengikuti suatu format metadata tertentu. Sebagai contoh untuk
beberapa file gambar JPEG, TIFF menggunakan format EXIFF, PDF menggunakan
format XMP, metadata GIF 89.a, OpenDocument format yang mendukung metadata
(tersimpan pada file meta.xml), ID3 tag untuk MP3, dan
sebagainya.
Dapat dibayangkan sekarang jika seandainya kita memiliki
kumpulan file-file tersebut dan ingin membuat suatu sistem pencarian terhadap
kumpulan file tersebut. Tentunya bukan hanya sekedar berdasar nama file, namun
juga mestinya dapat berdasar isi dari metadatanya. Untuk dapat mencari
file-file tersebut berdasar metadatanya, tentunya diperlukan modul untuk dapat
mengambil metadata-metadata tersebut. Sebagai contoh ada sebuah proyek open
source yang dikembangkan oleh perputakaan nasional New Zealand, yaitu Metadata Extraction Tool, dapat membantu untuk
mengekstraksi metadata dari beberapa format file.
Sekarang bagaimana dengan metadata yang dapat digunakan pada
Web? Oleh karena sebagian besar sesumber informasi di Web menggunakan format
HTML, maka sebagian besar metadata untuk sebuah halaman Web akan tersimpan pada
bagian <header></header>. Pada bagian <header> tersebut, HTML
sudah menyediakan sebuah elemen yang bernama <meta> dengan pilihan meta
default, antara lain: charset, content, http-equiv, name, atau scheme. Nilai
yang dapat secara bebas diberikan, tanpa constraint nilai tertentu, adalah name. Dengan namekita dapat memasukkan
“keywords”, “description”, “author”. Namun ketersediaan meta tersebut
sangatlah tidak mencukupi untuk memberikan sesuatu informasi lain yang
memperkaya content. Pada HTML5, kita juga
dapat mendefinisikan elemen-elemen baru sesuai dengan kebutuhan. Dan fasilitas
ini tentunya dapat digunakan untuk mendefinisikan metadata. Namun agar dapat dikenal oleh banyak orang atau mesin, maka metadata
harusnya bersifat terbuka dan diakui oleh banyak komunitas. Ini
adalah salah satu prinsip dalam Semantic Web.
Untuk itulah kemudian muncul format metadata lain yang dapat
ditempelkan pada dokumen Web. Salah satunya yang termasuk format metadata untuk
web pertama adalah Dublin Core Metadata Standard. Terkait dengan pengembangan
dan pemeliharaan DC Metadata ini, terbentuklah sebuah organisasi yang bernama
Dublic Core Metadata Innitiative – DCMI. Organisasi ini juga mengumpulkan
beberapa tool yang dapat digunakan oleh siapa saja untuk mendapatkan format
Dublin Core . Ada juga yang tidak tersebutkan pada daftar, namun menyediakan
tool yang serupa, salah satunya adalah Dublin Core Generator. Metadata DC ini tidak hanya dapat
dipasangkan ke dokumen HTML, namun juga format dokumen lain yang menerima suatu
variabel string. Contoh Dublin Core Metadata dalam format XHTML:
<meta
name="DC.Title" content="Perihal" />
<meta
name="DC.Creator" content="Budi Susanto" />
<meta
name="DC.Publisher" content="Wordpress" />
<meta
name="DC.Type" content="Blog" />
<meta
name="DC.Format" content="HTML" />
<meta
name="DC.Language" content="Indonesia" />
<meta
name="DC.Rights" content="Common Creative" />
Masih terkait dengan pemakaian elemen HTML, ada gerakan
komunitas yang mengusulkan adanya pemakaian elemen HTML untuk pendefinisian
metadata. Pemakaian elemen HTML untuk metadata ini kita kenal dengan istilah
Microformat. Microformat diperkenalkan dan dikembangkan oleh komunitas
microformat melalui situs microformats.org. Melalui situs ini, gerakan untuk
mendefinisikan format metadata yang menjadi satu bagian dalam dokumen HTML
mulai bermunculan. Adapun spesifikasi microformat yang dapat digunakan saat ini
dapat dilihat di halaman wiki mereka. Oleh
karena dihasilkan dari komunitas dan dapat digunakan secara bebas, serta tidak
sulit (berpegang pada prinsip “Designed for humans first and
machines second“), pemakaian Microformat sudah mulai banyak ditemui
pada halaman-halaman web relatif baru, terutama yang sudah kompatibel dengan
HTML 5. Selain microformat, tersedia juga spesifikasi standar dari W3C terkait
dengan pemanfaatan elemen HTML 5 untuk ditambahkan metadata. Spesifikasi ini
dikenal dengan nama Microdata. Dalam microdata, kita dapat mendefinisikan sebuah
item dengan menambahkan atribut itemscope. Di dalam
sebuah item, kemudian dapat dibubuhkan properti-propertinya dengan menambahkan
atribut itemprop.
Format lain yang juga mulai banyak digunakan adalah RDF
(Resource Description Framework) [12]. Dengan RDF, kita dapat melakukan pemodelan terhadap objek
data yang kita berikan metadata. Pemodelan yang dapat dituangkan dalam RDF
dapat mencakup berbagai macam instan objek, properti, dan relasinya. Dengan
demikian RDF memberikan informasi yang lebih kaya daripada sekedar pasangan
parameter dan nilainya. Bahkan, dalam RDF kita juga tetap dapat menggunakan
skema Dublin Core.
Kesimpulan :
Masih ada banyak format metadata yang ditawarkan, namun
dalam konteks Web, format RDF dan Dublin Core serta didukung oleh skema-skema
RDFS dan OWL yang lain, menjadi satu-satunya pilihan yang lebih bijaksana untuk
digunakan saat ini. Oleh karena RDF sebagai salah satu elemen penting pembangun
infrastruktur Semantic Web, maka tentunya akan lebih baik jika saat ini untuk
metadata pada Web digunakan format RDF. Mengingat bahwa perkembangan teknologi
Web sudah semakin mature untuk menunjang
pengelolaan content yang lebih baik,
tentunya penerapan RDF juga sebaiknya semakin digalakkan.
Referensi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar