Jumat, 29 April 2016

Standar Web Content
Web content adalah isi sebuah website. Tanpa adanya file-file halaman web dan file pendukung, maka domain dan hosting yang telah kita miliki tidak akan menampilkan apa-apa jika diakses. Ini seperti memiliki rumah baru yang sudah ada alamatnya tapi belum diisi perabot alias kosong. Berbeda dengan domain dan hosting yang sangat mudah dimiliki serta tidak membutuhkan skill khusus, konten website membutuhkan penanganan dan skill khusus.

Media dan standar

Media
Dalam produksi media dan penerbitan, konten informasi dan pengalama dapat memberikan nilai bagi end-user/audience dalam konteks tertentu. Konten dapat disampaikan melalui media apapun seperti internet, televisi, dan CD audio, serta acara live seperti konferensi dan pertunjukan panggung. Konten (media) digunakan untuk mengidentifikasi dan menilai berbagai format dan genre informasi yang dikelola sebagai nilai tambah, dan media komponen berguna untuk target audiens. Produksi media dan teknologi pengiriman berpotensi meningkatkan nilai konten dengan format, penyaringan dan menggabungkan sumber-sumber asli konten untuk hal yang baru dengan konteks yang baru. Kurang penekanan pada nilai dari konten yang disimpan, dan lebih menekankan pada repurposing cepat, pemakaian ulang, dan pemindahan telah menyebabkan banyak penerbit dan produser media melihat fungsi utama mereka kurang mempunyai banyak pembuat/pencipta dan lebih sebagai transformer dari konten.

Standar
Standar merupakan spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Standar web merupakan suatu keharusan. Standar web satu sama lain saling tergantung, beberapa di antaranya mengatur aspek internet, bukan hanya World Wide Web (Sebuah Situs). Bahkan ketika web tidak terpantau, standar tersebut secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi perkembangan dan administrasi situs web dan layanan web. Pertimbangannya adalah interoperabilitas, aksesibilitas dan kegunaan dari halaman web dan situs web.
Standar web, dalam arti yang lebih luas, terdiri dari:
1.      Recommendations published by the World Wide Web Consortium (W3C).
2.      Internet standard (STD) documents published by the Internet Engineering Task Force (IETF).
3.      Request for Comments (RFC) documents published by the Internet Engineering Task Force.
4.      Standards published by the International Organization for Standardization (ISO).
5.      Standards published by Ecma International (formerly ECMA).
6.      The Unicode Standard and various Unicode Technical Reports (UTRs) published by the Unicode Consortium.
7.      Name and number registries maintained by the Internet Assigned Numbers Authority (IANA).
METADATA
Definisi Metadata
Jadi, apa itu metadata? Mengutip dari apa yang tertulis di Wikipedia, metadata merupakan informasi yang mendeskripsikan tentang suatu himpunan data. Metadata yang dberikan pada suatu himpunan data sifatnya tidak akan mengubah isi atau inti dari data tersebut. Metadata akan memberikan suatu informasi “tambahan” yang dapat memberikan peran lebih terhadap himpunan data. Terhadap definisi metadata tersebut, Tony Gill menguraikan bahwa metadata semestinya tidak hanya didefinisikan sebagai “data about data” saja, karena pada perkembangannya suatu himpunan atau kumpulan metadata dapat diperlakukan sebagai sebuah catalog, sebagai contoh Google yang memanfaatkan hal ini. Sehingga Tony Gill memiliki definisi metadata sebagai “a structured description of the essential attributes of an information object.”
Mengapa metadata penting? Menurut Anne J. Gilliland, mengatakan bahwa pembuatan dan pemeliharaan metadata membutuhkan suatu usaha yang tidak murah. Namun dengan adanya metadata dapat memberikan beberapa kesempatan keuntungan yang akan diperoleh secara langsung maupun tidak,antara lain: meningkatkan aksesibilitas, memelihara konteks  informasi, memperluas pemakaian sesumber informasi, dapat membantu siapapun untuk belajar berdasar metadata, dapat membantu dokumentasi pengembangan sistem, memfasilitasi pencarian, mendukung multi versi objek informasi, mendukung masalah legalitas, serta untuk bertahan dari perubahan lingkungan sistem.
Melihat manfaat dari metadata tersebut, penerapannya dalam memperlengkapi sumber informasi yang tersebar di Internet, seperti halaman web, tentunya akan memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk dapat mengelola dan mengakses metada-metadata yang “menempel” pada halaman web dengan mudah. Sebenarnya metadata yang melekat pada sumber Informasi di web bagaikan sebuah record data yang menyusun suatu database terdistribusi. Dengan jumlah miliaran halaman web dan sumber informasi lain yang tersebar di Internet, tentunya saya lebih setuju dengan definisi metadata yang disampaikan oleh Tony Gill.
Format Metadata untuk Web
Sebagian besar file format yang tersebar saat ini sudah mendukung adanya metadata. Sebuah metadata yang melekat pada suatu file, pada umumnya akan mengikuti suatu format metadata tertentu. Sebagai contoh untuk beberapa file gambar JPEG, TIFF menggunakan format EXIFF, PDF menggunakan format XMP, metadata GIF 89.a, OpenDocument format yang mendukung metadata (tersimpan pada file meta.xml), ID3 tag untuk MP3, dan sebagainya.
Dapat dibayangkan sekarang jika seandainya kita memiliki kumpulan file-file tersebut dan ingin membuat suatu sistem pencarian terhadap kumpulan file tersebut. Tentunya bukan hanya sekedar berdasar nama file, namun juga mestinya dapat berdasar isi dari metadatanya. Untuk dapat mencari file-file tersebut berdasar metadatanya, tentunya diperlukan modul untuk dapat mengambil metadata-metadata tersebut. Sebagai contoh ada sebuah proyek open source yang dikembangkan oleh perputakaan nasional New Zealand, yaitu Metadata Extraction Tool,  dapat membantu untuk mengekstraksi metadata dari beberapa format file.
Sekarang bagaimana dengan metadata yang dapat digunakan pada Web? Oleh karena sebagian besar sesumber informasi di Web menggunakan format HTML, maka sebagian besar metadata untuk sebuah halaman Web akan tersimpan pada bagian <header></header>. Pada bagian <header> tersebut, HTML sudah menyediakan sebuah elemen yang bernama <meta> dengan pilihan meta default, antara lain: charset, content, http-equiv, name, atau scheme. Nilai yang dapat secara bebas diberikan, tanpa constraint nilai tertentu, adalah name. Dengan namekita dapat memasukkan “keywords”, “description”, “author”.  Namun ketersediaan meta tersebut sangatlah tidak mencukupi untuk memberikan sesuatu informasi lain yang memperkaya content. Pada HTML5, kita juga dapat mendefinisikan elemen-elemen baru sesuai dengan kebutuhan. Dan fasilitas ini tentunya dapat digunakan untuk mendefinisikan metadata. Namun agar dapat dikenal oleh banyak orang atau mesin, maka metadata harusnya bersifat terbuka dan diakui oleh banyak komunitas. Ini adalah salah satu prinsip dalam Semantic Web.
Untuk itulah kemudian muncul format metadata lain yang dapat ditempelkan pada dokumen Web. Salah satunya yang termasuk format metadata untuk web pertama adalah Dublin Core Metadata Standard. Terkait dengan pengembangan dan pemeliharaan DC Metadata ini, terbentuklah sebuah organisasi yang bernama Dublic Core Metadata Innitiative – DCMI. Organisasi ini juga mengumpulkan beberapa tool yang dapat digunakan oleh siapa saja untuk mendapatkan format Dublin Core . Ada juga yang tidak tersebutkan pada daftar, namun menyediakan tool yang serupa, salah satunya adalah Dublin Core Generator. Metadata DC ini tidak hanya dapat dipasangkan ke dokumen HTML, namun juga format dokumen lain yang menerima suatu variabel string. Contoh Dublin Core Metadata dalam format XHTML:
<meta name="DC.Title" content="Perihal" />
<meta name="DC.Creator" content="Budi Susanto" />
<meta name="DC.Publisher" content="Wordpress" />
<meta name="DC.Type" content="Blog" />
<meta name="DC.Format" content="HTML" />
<meta name="DC.Language" content="Indonesia" />
<meta name="DC.Rights" content="Common Creative" />

Masih terkait dengan pemakaian elemen HTML, ada gerakan komunitas yang mengusulkan adanya pemakaian elemen HTML untuk pendefinisian metadata. Pemakaian elemen HTML untuk metadata ini kita kenal dengan istilah Microformat. Microformat diperkenalkan dan dikembangkan oleh komunitas microformat melalui situs microformats.org. Melalui situs ini, gerakan untuk mendefinisikan format metadata yang menjadi satu bagian dalam dokumen HTML mulai bermunculan. Adapun spesifikasi microformat yang dapat digunakan saat ini dapat dilihat di halaman wiki mereka. Oleh karena dihasilkan dari komunitas dan dapat digunakan secara bebas, serta tidak sulit (berpegang pada prinsip “Designed for humans first and machines second“), pemakaian Microformat sudah mulai banyak ditemui pada halaman-halaman web relatif baru, terutama yang sudah kompatibel dengan HTML 5. Selain microformat, tersedia juga spesifikasi standar dari W3C terkait dengan pemanfaatan elemen HTML 5 untuk ditambahkan metadata. Spesifikasi ini dikenal dengan nama Microdata. Dalam microdata, kita dapat mendefinisikan sebuah item dengan menambahkan atribut itemscope. Di dalam sebuah item, kemudian dapat dibubuhkan properti-propertinya dengan menambahkan atribut itemprop.
Format lain yang juga mulai banyak digunakan adalah RDF (Resource Description Framework) [12]. Dengan RDF, kita dapat melakukan pemodelan terhadap objek data yang kita berikan metadata. Pemodelan yang dapat dituangkan dalam RDF dapat mencakup berbagai macam instan objek, properti, dan relasinya. Dengan demikian RDF memberikan informasi yang lebih kaya daripada sekedar pasangan parameter dan nilainya. Bahkan, dalam RDF kita juga tetap dapat menggunakan skema Dublin Core.

Kesimpulan :
Masih ada banyak format metadata yang ditawarkan, namun dalam konteks Web, format RDF dan Dublin Core serta didukung oleh skema-skema RDFS dan OWL yang lain, menjadi satu-satunya pilihan yang lebih bijaksana untuk digunakan saat ini. Oleh karena RDF sebagai salah satu elemen penting pembangun infrastruktur Semantic Web, maka tentunya akan lebih baik jika saat ini untuk metadata pada Web digunakan format RDF. Mengingat bahwa perkembangan teknologi Web sudah semakin mature untuk menunjang pengelolaan content yang lebih baik, tentunya penerapan RDF juga sebaiknya semakin digalakkan.









Referensi




Tidak ada komentar:

Posting Komentar