Kamis, 18 Juni 2015

TUGAS ILMU BUDAYA DASAR
MAKALAH TENTANG SUKU MENTAWAI








DIBUAT OLEH :

NAMA       : ANDI MUHAMMAD REZA SAHRUL FIRDAUS
KELAS      : 1IA02
NPM                    : 51414052
BAB 1
PENDAHULUAN

Suku Mentawai adalah penghuni asli di Kepulauan Mentawai. Sama halnya dengan suku Nias dan suku Enggano, mereka merupakan pendukung budaya Proto-Melayu yang menetap di Kepulauan Nusantara bagian barat. Daerah hunian warga Mentawai, selain di Mentawai ada juga di Pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan. Suku ini dikenal sebagai peramu dan ketika pertama kali ketahui belum mengenal bercocok tanam. Tradisi mereka yang khas adalah penggunaan tato di seluruh tubuhnya yang berhubungan dengan peran dan status sosial penggunanya.
Pada Suku Mentawai yang ada di kepulauan Mentawai itu tersebar di pulau-pulau besar seperti Siberut, Sipora, Pagai Utara dan Pagai Selatan mencakup 4.480 kilometer persegi dan dengan jumlah penduduk sekitar 29.918. Dalam beberapa pandangan dari asal usul masyarakat Mentawai, ada yang mengatakan bahwa masyarakat Mentawai berada didalam garis orang polisenia. Menurut kepercayaan masyarakat Siberut, nenek moyang masyarakat Mentawai berasal dari satu suku/uma dari daerah Simatalu yang terletak di Pantai Barat Pulau Siberut yang kemudian menyebar ke seluruh pulau dan terpecah menjadi beberapa uma/suku.

BAB 2
ASAL USUL

·        Asal Usul Suku Mentawai
Para nenek moyang orang Mentawai adat dipercaya telah bermigrasi pertama kali ke wilayah tersebut di suatu tempat antara 2000 – 500 SM, sedangkan penjajah pertama dinyatakan dalam dokumentasi awal oleh John Crisp yang mendarat di pulau-pulau ini pada tahun 1792, telah tiba pada pertengahan 1700 di perjalanan orang Inggris yang membuat upaya gagal dan untuk mendirikan suatu pemukiman pertanian lada di sebuah pulau selatan Pagai Selatan. Selama bertahun-tahun, sebelum perdagangan ini ada antara masyarakat adat dan antara daratan Sumatera Cina dan Melayu.
Setelah menetapkan kehadiran mereka 40 tahun sebelumnya, sementara penandatanganan kontrol Sumatera dan Semenanjung Malaya, Belanda kembali pada tahun 1864 untuk mengklaim kepulauan Mentawai di bawah kedaulatan Hindia Timur. Posisi terus dipertahankan sampai Perang Dunia Kedua. Selama periode ini hubungan antara masyarakat Belanda dan pribumi diketahui baik, seperti yang didokumentasikan melalui akun pembicaraan dengan para tetua Mentawai yang kali ini sebagai “hari tua yang baik” di mana mereka  menerima timbalan yang adil dalam perdagangan dan bebas untuk mempraktekkan gaya hidup budaya mereka,  Sabulungan adalah  suatu eksistensi budaya dimana adat masyarakat Mentawai yang dijalani bersama oleh sebuah sistem kepercayaan yang membayar penghormatan kepada arwah nenek moyang mereka, langit, tanah, laut, sungai, dan segala sesuatu di dalamnya, biasanya dilakukan dengan upacara ritual cukup umum yang dipimpin oleh dukun atau tetua  suku tersebut.

·        Filosofi Kehidupan Suku Mentawai
Agama/kepercayaan masyarakat Mentawai adalah Arat Sabulungan. Arat yang berarti adat dan Sabulungan yang berarti bulu. Agama ini mempunyai pandangan bahwa segala sesuatu yang ada, benda mati atau benda hidup memiliki roh yang terpisah dari jasad dan bebas berkeliaran di alam luas. Saat ini agama masyarakat Mentawai sudah lebih beraneka ragam. Hal ini mengingat kita bahwa sudah banyak yang memeluk agama Islam atau Kristen. Dalam pemahaman masyarakat Mentawai bukan hanya manusia saja yang memiliki jiwa.  Hewan, tumbuh-tumbuhan, dan segala jenis zat yang ada di alam memiliki jiwa. Adajuga  berbagai macam ruh yang mendiami seluruh alam semesta ini, seperti di laut, udara, dan daratan.
Masyarakat Mentawai menanamkan prinsip kesederhanaan. Hal itu bias dilihat dari cara berpakaian tradisional masyarakat Mentawai. Para lelakinya memakai Kabit yaitu penutup bagian tubuh bawah yang terbuat dari kulit kayu. Sementara bagian tubuh atas dibiarkan telanjang.  Untuk para wanita, mereka menutup tubuh bagian bawah dengan memakai untaian pelepah daun pisang yang dibentuk seperti rok. Sementara untuk tubuh bagian atas, ditutupi dengan rajutan daun rumbia yang berbentuk seperti baju.
Pada hukum adat masyarakat Mentawai terdapat pandangan mengenai hutan. Masyarakat Mentawai memiliki kepercayaan bahwa suatu daerah seperti hutan, sungai, gunung, perbukitan, hutan, laut, dan rawa memiliki penjaga yaitu mahluk halus yang mereka sebut lakokaina. Mereka yakin lakokaina sangat berpengaruh dalam mendatangkan dan sekaligus memberhentikan rezeki.

BAB 3
TRADISI SUKU
·        Tradisi Suku Mentawai
Ø  Upacara adat penyambutan keluarga baru ini disebut pakilia, satu-satunya suku yang masih menjalankannya ada di Sikabaluan, setiap keluarga suku ini melangsungkan pesta pernikahan yaitu suku Sikaraja. Dari pihak Sikaraja ini hanya dapat menjalankan upacara adat pakilia apabila pengantin laki-laki berasal dari suku mereka. Bila hanya pengantin perempuan maka upacara adat pakilia ini tidak dilaksanakan.
Ø  Menjadi seorang sikerei dapat didefinisikan sebagai orang yang matang di semua aspek kehidupan masyarakat adat orang Mentawai. Maka posisi sikerei dihormati dan dihargai karena sikerei merupakan prosesi tertinggi di dalam kehidupan adat dan budaya sehingga tertanam dalam diri seorang sekirei, kedewasaan dalam berpikir, kearifan dalam  tradisi dan adat serta pelayanan mereka. Oleh Karena itu orang yang bukan sikerei disebut simatakyang yang berarti mentah. Peranan sikerei sangat fital keberadaannya  dengan mengobati orang sakit, memimpin ritual seperti rumah baru, sampan baru, ladang, kelahiran, kematian dan lainnya.
Ø  Proses pembuatan tato dalam sebuah upacara besar di Mentawai biasanya dipimpin seseorang pemuka atau orang yang dituakan. Sebelum pembuatan tato dimulai atau dibuat, mereka sebelumnya harus meminta izin pada roh-roh nenek moyang dan sang penguasa-penguasa (bumi, langit, air, gunung dan lain-lain) agar pada saat pembuatan tato dimulai atau dilaksanakan tidak ada lagi yang menghalang-halangi, seperti penyakit yang melanda keluarga besar yang ditato, penato maupun yang ditato ataupun yang lainnya yang membuat tidak lancarnya aktivitas pada saat pembuatan tato tersebut.







Gambar 1.Tato pada Masyarakat Suku Mentawai
·        Tata Cara Kehidupan Suku Mentawai
Masyarakat Mentawai bersifat patrinial dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut "uma". Struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di rumah besar yang disebut juga "uma" yang berada di tanah-tanah suku tersebut. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Kelompok-kelompok patrilinial ini berisi dari keluarga-keluarga yang hidup di tempat-tempat yang sempit di sepanjang sungai-sungai besar. Walaupun telah terjadi hubungan perkawinan antara kelompok-kelompok uma yang tinggal di lembah sungai yang sama, akan tetapi kesatuan-kesatuan politik tidak pernah terbentuk karena peristiwa ini. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, maksudnya setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali "sikerei", yang mempunyai hak lebih tinggi karena dapat menyembuhkan penyakit dan memimpin suatu upacara keagamaan.
Gambar2.Rumah besar (uma) tempat dimana Suku Mentawai makan bersama




·        Nilai-nilai yang Bisa Diambil Dari Tradisi Suku Mentawai
Masyarakat Suku Mentawai merupakan masyarakat yang percaya akan ruh-ruh itu bias dilihat dari sikap mereka yang sangat menghargai ruh-ruh yang ada di alam sekitar mereka. Dari kehidupan mereka juga menunjukkan bahwa mereka mempunyai sifat kekeluargaan atau kebersamaan dimana mereka makan bersama dan membaginya dalam sebuah rumah yang disebut uma.
Prinsip Kesederhanaan juga sangat melekat pada Suku Mentawai itu bias dibuktikan dengan pakaian mereka yang hanya bermodalkan bahan-bahan yang berasal dari alam. Mereka juga percaya bahwa ruh orang yang sudah meninggal masih berkeliaran di alam luas.
BAB 4
KESIMPULAN
Suku Mentawai merupakan kelompok masyarakat yang hidup dan menetap di Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat. Turun temurun, suku Mentawai tinggal di empat pualu besar di kepulauan Mentawai yakni Sibora, Siberut, Pagai Utara serta Pagai Selatan. Secara turun temurun, suku Mentawai hidup sederhana di dalam sebuah Uma. Uma merupakan rumah yang dibuat dari kayu pohon.  
Suku ini termasuk suku terasing yang hidup primitif di tempat terpencil. Tato memiliki kedudukan yaitu untuk  menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi.  Pembuatan tato sendiri melewati proses ritual, karena bagian dari kepercayaan Arat Sabulungan (kepercayaan kepada roh-roh).











DAFTAR PUSTAKA

TUGAS MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
RUMAH ADAT GADANG
SUMATRA BARAT






DIBUAT OLEH :
ANDI MUHAMMAD REZA SAHRUL FIRDAUS
51414052
1IA02

1.     PENDAHULUAN

Rumah Gadang adalah rumah adat Minangkabau. Rumah gadang ini mempunyai ciri yang sangat khas. Bentuk dasarnya adalah bentuk balok segitiga empat yang mengembang ke atas. Garis melintangnya melengkung dan landai dengan bagian tengah yang lebih rendah. Lengkungan atap rumahnya sangat tajam bias dibilang seperti tanduk kerbau. Sedangkan lengkungan badan dan rumah landai seperti badan kapal. Atap rumah gadang terbuat dari ijuk. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas ini disebut gonjong. Karena atapnya membentuk gonjong, maka rumah gadang juga disebut rumah bagonjong.

 Tujuan dibentuknya rumah gadang ini sebagai tempat tinggal dan acara adat, penting juga untuk iringan adat seperti tempat melaksanakan acara seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan, mengadakan acara kebesaran adat, tempat mufakat dan lain-lain.

2.     TIPOLOGI BANGUNAN
Dalam rumah gadang terdiri dari 3 ruangan yaitu ruangan depan, ruangan tengah dan ruangan dapur.
§  Fungsi ruangan depan
Bagian dalamnya terdiri atas lanjar dan ruang. Ruangan depan ini berfungsi sebagai ruangan keluarga, selain itu lanjar depan merupakan tempay terhormat dan juga lanjar depan ini berfungsi sebagai tempat duduk mamak.
§  Fungsi ruangan tengah
Ruangan tengah ini merupakan kamar tempat penghuni rumah, sebenarnya fungsi ruangan tengah ini berbeda-beda tergantung seberapa banyak lanjar yang ada pada rumah tersebut.
§  Fungsi ruangan dapur
Letak dapur pada rumah gadang berbeda-beda tergantung posisi dari tangga dan pintu masuk rumah tersebut.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiWkor2Kr0EkFR9hHcIjIw4tQfRXJponCvIIfBOi7-O_pu_GQYDqMy-6wxyYRQfuU4SXQTkj5SzsAD-Kh5zTdr6aLGIg1Wl_UaG7FARqnxsAGZOJcLdk-ZC8q9fqQMusiV0b38MojQiIQxB/s1600/Untitled-1+copy.jpg
Gambar1. Bagian-bagian dari rumah gadang

FILOSOFI DAN TRADISI SUKA MINANG
Falsafah orang minang adalah falsafah Samoa atau sama yuang bermakna persamaan, kesamaan antar masing-masing individu, antar kaum dan desa.
Masyarakat Nan Sakato yang berarti masyarakat yang sekata, sependapat dan semufakat. Hal tersebut bias diartikan bahwa masyarakat minang harus menjadi masyarakat yang rukun tanpa ada banyak pertentangan pendapat demi bisa mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Masyarakat minang juga diketahui sebagai masyarakat yang egaliter yang berarti sama, sederajat. Jenis-jenis masyarakat ideal bias diwujudkan apabila memperhatikan unsur-unsur yanga ada di dalam masyarakat minang itu sendiri. Unsur-unsur itu adalah maasyarakat yang Saiyo Sakato, Sahino Sanalu, Anggo Tanggo dan Sapikuan Sajinjiang.
Saiyo Sakato berarti masyarakat yang mufakat dalam mengambil keputusan. Dengan demikian masyarakat minang selalu melakukan musyawarah dalam setiap pengambilam keputusan. Masyarakat minang merupakan masyarakat yang demokratis oleh karna itu sikap otoriter tidak disenangi oleh orang minang.
Sahino Samalu adalah prinsip orang minang dalam membangun masyarakat yang Saiyo Sakato. Prinsip ini bias dibilang selalu mengedepankan sikap kedekatan dan kekeluargaan masyarakat minang.
Anggo Tanggo ialah prinsip terhadap kepatuhan masyarakat minang terhadap aturan-aturan adat yang berlaku. Dengan selalu mentaati aturan ini maka akan terwujud tatanan masyarakat yang tertib dan aman.
Sapikua Sajinjiang nerupakan prinsip untuk saling tolong menolonhg atau bias dibilang gotong-royong. Prinsip jenis ini merupakan komunal di suku manapun, dengan hidup berdampingan dan saling membantu dalam mengerjakan segala hal.

TRADISI HIDUP SUKU MINANG
Tradisi yang ada dalam ranah minang menjadi kekayaan yang berharga dalam budaya minangkabau. Faktor lahiriyah dalam melaksanakan adat yang sesuai syariat yang bias membuat adat Minangkabau menyatu didalam ajaran Islam. Upacara yang dilakukan dalam tradisi Minangkabau adalah :
1.      Upacara Kehamilan
Ketika roh ditiup kedalam seorang ibu pada saat janin berumur 16 minggu maka disaat inilah para kalangan masyarakat meminta doa dari para kerabat. Yang dimaksud kerabat ialah bpara ipar dan besan dari masing-masing pasangan istri.
2.      Upacara Kerek Pusek
Karena ini mempunyai tugas dari kalangan medis maka belum ada upacara khusus untuk hal ini.
3.      Upacara Turun Mandi dan Kekah (Akekah)
Umumnya induk bako dan para besan akan memberikan perhiasan seperti cincin untuk laki-laki dan gelang untuk perempuan.
4.      Upacara Sunat Rasul
Jika seorang laki-laki sudah cukup umur maka dalam ranah minang seorang anak akan menjalani adat yang namanya Sunat Rasul. Sebenarnya ini bukan tradisi minang tapi bisa dibilang ini merupakan asimilasi dari berbagai macam etnis yang ada di Indonesia.


5.      Masa mengaji di surau dan masa remaja laki-laki
Suaru menjadi tempat belajar bagi anak laki-laki saat mereka remaja. Berikut adalah upacara saat remaja :
·         Manjalang guru, menemui guru untuk belajar
·         Belimau, dididik mandi berlimau dibawah arahan gurunya
·         Batutue, bertutut atau bercerita
·         Mengaji adat istiadat, mendapatkan pengetahuan yang berhubungan dengan tambo alam dan tambo adat.
·         Baraja tari sewa dan pancak silat, belajar tari sewa dan pencak silat
·         Mangaji halal jo haram, mengaji halal dan haram
·         Mangaji nan kureik kundi nan merah sago, pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat dan moral
6.      Tamat Kaji
Jika sudah khatam Qur’an maka akan dilakukan pengujian dihadapan majelis surau
7.      Melepas Pergi Merantau
Dilepaskan untuk pergi merantau

HUBUNGAN TIPOLOGI BANGUNAN DENGAN FILOSOFI HIDUP SUKU MINANG
Rumah Gadang diberi nama demikian karena rumah ini biasa digunakan untuk hunian, tempat pengobatan dan juga tempat pertemuan adat ataupun perkawinan. Dikarenakan banyaknya aktifitas yang dilakukan di rumah tersebut maka rumah tersebut dikatakan gadang (besar) dalam artian simbolis. Lahan yang digunakan untuk membangun rumah gadang ini memakai lahan kaum tersebut. Karena rumah ini ditujukan untuk kegiatan kelompok/kaum/keluarga tersebut, dimana setiap generasi saling bergantian memakainya.     hal ini menggambarkan eratnya kebersamaan sautu kaum/keluarga dalam beraktifitas, sampai-sampai untuk tempat tinggal pun selalu tetap bersama-sama.
Rumah Gadang mempunyai bentuk dan pola dari bentuk persegi panjang, hal ini dimaksudkan untuk dapat menampung semua aktifitas dan bisa leluasa untuk ruang gerak. Seluruh ruang didalam rumah gadang ini merupakan ruang lepas, terkecuali kamar tidur yang disekat dengan dinding pembatas. Bagian dalam terbagi menjadi 2 yaitu lanjar dan ruang, yang ditandai dengan pembatas tiang. Dan material yang dipakai ialah material dari alam.
Bentuk atap yang landau membuat pada saat hujan yang deras tidak mengenai dinding dan sempat jatuh kebagian bawah. Bangunan yang membesar keatas membuat bagian dinding tidak terkena siraman air hujan. Kolong yang lumayan tinggi membuat sirkulasi udara dibagian bawah lantai menjadi lancer dan baik. Pada umumnya bangunan di Minangkabau mengarah berjajar menurut utara-selatan, hail ini dimaksudkan untuk mencegah sinar matahari yang panas terlalu mudah memasuki ruang dan lancr dalam bangunan, sehingga kebutuhan sinar matahari yang didapatkan menjadi ideal.

3.     KEARIFAN LOKAL DALAM BANGUNAN RUMAH GADANG
Sebagai suatu suku bangsa yang menganut Bahasa falsafah alam sebagai guru, keberadaan rumah gadang merupakan perwujudan dari hasil pemahaman dan pembelajaran masyarakat Minangkabau terhadap alam sekitar. Jika kita teliti dalam mengamati dan mendalaminya, maka kita akan menemukan kearifan local masyarakat Minangkabau.


Jika dilihat secara fisik arsitektur rumah gadang menunjukkan bahwa ada keselarasan adaptasi terhadap lingkungannya. Atapnya yang lancip merupakan adaptasi terhadap kondisi alam yang tropis. Dengan alat lancip dipercaya air tidak akan mengendap. Maka dari itu walaupun hanya terbuat dari ijuk yang berlapis- lapis, rumah gadang tidak akan bocor. Demikian juga dengan arsitektur gadang yang membesar keatas. Tujuannya adalah supaya bagian dalam rumah tidak basah karena dampak air hujan yang dibawa oleh angina
Bentuk rumah yang berkolong juga tidak semata-mata untuk menghindari serangan binatang buas. Tetapi juga sebagai bentuk adaptasi pada kondisi alam tropis yang panas. Kolong yang tinggi membuat penghuninya bisa merasakan udara segar. Selain itu, desain rumah gadang yang memanjang dari utara ke selatan kan menghindarkan penghuninya dari panas matahari dan tiupan angina secara langsung. Dapat dikatakan bahwa desain rumah gadang merupakan perwujudan kearifan lokal masyarakat yang mengandung nilai-nilai kesatuan, keselarasan, dan keseimbangan dengan alam.
Selain itu rumah gadang adalah media untuk mewariskan nilai-nilai adat Minangkabau. Lewat rumah gadang kelakuan para kerabat diatur, seperti, kesponan, tata pergaulan, cara makan dan bagaimana cara berkomunikasi dengan sesama anggota kaum  ataiupun pihak luar. Selain itu, fungsi utama dari rumah gadang adalah sebagai symbol untuk menjaga  sistem buadaya sistem kekrabatan dari garis ibu. Melalui rumah gadang, orang-rang Minangkabau menjamin kelestarian sistem kekerabatan tersebut.

4.     KESIMPULAN
  Dalam melakukan proses membangun rumah gadang, masyarakat Minangkabau tidak melupakan kewajiban yang sudah ditetapkan oleh adat istiadat Minangkabau yang sebelumnya, yaitu dengan melakukan pelaksanaan upacara. Dengan pelaksanaan upacara ini, mereka percaya bahwa dalam pembangunan rumah ini tidak akan terjadi bencana, dan dalam penemapatannya akana membawa keberuntungan dan kenyamanan bagi penghuninya. Upacara ini sekaligus dapat melestarikan adat istiadat Minangkabau.
Rumah Gadang merupakan arsitektur yang memanfaatkan iklim atau cuaca dalam usahanya untuk menciptakan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam hail ini, rumah gadang cocok untuk ditempatkan di iklim tropis. Hal ini bisa dilihat dari bentuk bangunannya yang memperhatikan curah hujan dan penghawaan.











DAFTAR PUSTAKA

24 Maret 2015
24 Maret 2015
24 Maret 2015
24 Maret 2015
27 Maret 2015