TUGAS MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR
RUMAH ADAT GADANG
SUMATRA BARAT

DIBUAT OLEH :
ANDI MUHAMMAD REZA SAHRUL FIRDAUS
51414052
1IA02
1.
PENDAHULUAN
Rumah Gadang adalah rumah adat
Minangkabau. Rumah gadang ini mempunyai ciri yang sangat khas. Bentuk dasarnya
adalah bentuk balok segitiga empat yang mengembang ke atas. Garis melintangnya
melengkung dan landai dengan bagian tengah yang lebih rendah. Lengkungan atap
rumahnya sangat tajam bias dibilang seperti tanduk kerbau. Sedangkan lengkungan
badan dan rumah landai seperti badan kapal. Atap rumah gadang terbuat dari
ijuk. Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas ini disebut gonjong.
Karena atapnya membentuk gonjong, maka rumah gadang juga disebut rumah
bagonjong.
Tujuan dibentuknya rumah gadang ini sebagai
tempat tinggal dan acara adat, penting juga untuk iringan adat seperti tempat
melaksanakan acara seremonial adat seperti kematian, kelahiran, perkawinan,
mengadakan acara kebesaran adat, tempat mufakat dan lain-lain.
2.
TIPOLOGI
BANGUNAN
Dalam rumah gadang
terdiri dari 3 ruangan yaitu ruangan depan, ruangan tengah dan ruangan dapur.
§
Fungsi
ruangan depan
Bagian dalamnya terdiri atas
lanjar dan ruang. Ruangan depan ini berfungsi sebagai ruangan keluarga, selain
itu lanjar depan merupakan tempay terhormat dan juga lanjar depan ini berfungsi
sebagai tempat duduk mamak.
§
Fungsi
ruangan tengah
Ruangan tengah ini merupakan
kamar tempat penghuni rumah, sebenarnya fungsi ruangan tengah ini berbeda-beda
tergantung seberapa banyak lanjar yang ada pada rumah tersebut.
§
Fungsi
ruangan dapur
Letak dapur pada rumah gadang
berbeda-beda tergantung posisi dari tangga dan pintu masuk rumah tersebut.

Gambar1. Bagian-bagian dari rumah
gadang
FILOSOFI DAN TRADISI SUKA MINANG
Falsafah orang
minang adalah falsafah Samoa atau sama yuang bermakna persamaan, kesamaan antar
masing-masing individu, antar kaum dan desa.
Masyarakat Nan
Sakato yang berarti masyarakat yang sekata, sependapat dan semufakat. Hal
tersebut bias diartikan bahwa masyarakat minang harus menjadi masyarakat yang
rukun tanpa ada banyak pertentangan pendapat demi bisa mewujudkan kehidupan
yang lebih baik.
Masyarakat minang
juga diketahui sebagai masyarakat yang egaliter yang berarti sama, sederajat.
Jenis-jenis masyarakat ideal bias diwujudkan apabila memperhatikan unsur-unsur
yanga ada di dalam masyarakat minang itu sendiri. Unsur-unsur itu adalah
maasyarakat yang Saiyo Sakato, Sahino Sanalu, Anggo Tanggo dan Sapikuan
Sajinjiang.
Saiyo Sakato
berarti masyarakat yang mufakat dalam mengambil keputusan. Dengan demikian
masyarakat minang selalu melakukan musyawarah dalam setiap pengambilam
keputusan. Masyarakat minang merupakan masyarakat yang demokratis oleh karna
itu sikap otoriter tidak disenangi oleh orang minang.
Sahino Samalu
adalah prinsip orang minang dalam membangun masyarakat yang Saiyo Sakato.
Prinsip ini bias dibilang selalu mengedepankan sikap kedekatan dan kekeluargaan
masyarakat minang.
Anggo Tanggo ialah
prinsip terhadap kepatuhan masyarakat minang terhadap aturan-aturan adat yang
berlaku. Dengan selalu mentaati aturan ini maka akan terwujud tatanan
masyarakat yang tertib dan aman.
Sapikua Sajinjiang
nerupakan prinsip untuk saling tolong menolonhg atau bias dibilang
gotong-royong. Prinsip jenis ini merupakan komunal di suku manapun, dengan hidup
berdampingan dan saling membantu dalam mengerjakan segala hal.
TRADISI HIDUP SUKU MINANG
Tradisi yang ada dalam ranah
minang menjadi kekayaan yang berharga dalam budaya minangkabau. Faktor
lahiriyah dalam melaksanakan adat yang sesuai syariat yang bias membuat adat
Minangkabau menyatu didalam ajaran Islam. Upacara yang dilakukan dalam tradisi
Minangkabau adalah :
1.
Upacara
Kehamilan
Ketika roh ditiup kedalam seorang
ibu pada saat janin berumur 16 minggu maka disaat inilah para kalangan
masyarakat meminta doa dari para kerabat. Yang dimaksud kerabat ialah bpara
ipar dan besan dari masing-masing pasangan istri.
2.
Upacara
Kerek Pusek
Karena ini mempunyai tugas dari
kalangan medis maka belum ada upacara khusus untuk hal ini.
3.
Upacara
Turun Mandi dan Kekah (Akekah)
Umumnya induk bako dan para besan
akan memberikan perhiasan seperti cincin untuk laki-laki dan gelang untuk
perempuan.
4.
Upacara
Sunat Rasul
Jika seorang laki-laki sudah
cukup umur maka dalam ranah minang seorang anak akan menjalani adat yang
namanya Sunat Rasul. Sebenarnya ini bukan tradisi minang tapi bisa dibilang ini
merupakan asimilasi dari berbagai macam etnis yang ada di Indonesia.
5.
Masa
mengaji di surau dan masa remaja laki-laki
Suaru menjadi tempat belajar bagi
anak laki-laki saat mereka remaja. Berikut adalah upacara saat remaja :
·
Manjalang
guru, menemui guru untuk belajar
·
Belimau,
dididik mandi berlimau dibawah arahan gurunya
·
Batutue,
bertutut atau bercerita
·
Mengaji
adat istiadat, mendapatkan pengetahuan yang berhubungan dengan tambo alam dan
tambo adat.
·
Baraja
tari sewa dan pancak silat, belajar tari sewa dan pencak silat
·
Mangaji
halal jo haram, mengaji halal dan haram
·
Mangaji
nan kureik kundi nan merah sago, pengajaran yang berkaitan dengan adat istiadat
dan moral
6.
Tamat
Kaji
Jika sudah khatam Qur’an maka
akan dilakukan pengujian dihadapan majelis surau
7.
Melepas
Pergi Merantau
Dilepaskan untuk pergi merantau
HUBUNGAN TIPOLOGI BANGUNAN DENGAN
FILOSOFI HIDUP SUKU MINANG
Rumah Gadang diberi
nama demikian karena rumah ini biasa digunakan untuk hunian, tempat pengobatan
dan juga tempat pertemuan adat ataupun perkawinan. Dikarenakan banyaknya
aktifitas yang dilakukan di rumah tersebut maka rumah tersebut dikatakan gadang
(besar) dalam artian simbolis. Lahan yang digunakan untuk membangun rumah
gadang ini memakai lahan kaum tersebut. Karena rumah ini ditujukan untuk
kegiatan kelompok/kaum/keluarga tersebut, dimana setiap generasi saling
bergantian memakainya. hal ini
menggambarkan eratnya kebersamaan sautu kaum/keluarga dalam beraktifitas,
sampai-sampai untuk tempat tinggal pun selalu tetap bersama-sama.
Rumah Gadang
mempunyai bentuk dan pola dari bentuk persegi panjang, hal ini dimaksudkan
untuk dapat menampung semua aktifitas dan bisa leluasa untuk ruang gerak. Seluruh
ruang didalam rumah gadang ini merupakan ruang lepas, terkecuali kamar tidur
yang disekat dengan dinding pembatas. Bagian dalam terbagi menjadi 2 yaitu
lanjar dan ruang, yang ditandai dengan pembatas tiang. Dan material yang
dipakai ialah material dari alam.
Bentuk atap yang
landau membuat pada saat hujan yang deras tidak mengenai dinding dan sempat
jatuh kebagian bawah. Bangunan yang membesar keatas membuat bagian dinding
tidak terkena siraman air hujan. Kolong yang lumayan tinggi membuat sirkulasi
udara dibagian bawah lantai menjadi lancer dan baik. Pada umumnya bangunan di
Minangkabau mengarah berjajar menurut utara-selatan, hail ini dimaksudkan untuk
mencegah sinar matahari yang panas terlalu mudah memasuki ruang dan lancr dalam
bangunan, sehingga kebutuhan sinar matahari yang didapatkan menjadi ideal.
3.
KEARIFAN
LOKAL DALAM BANGUNAN RUMAH GADANG
Sebagai suatu suku
bangsa yang menganut Bahasa falsafah alam sebagai guru, keberadaan rumah gadang
merupakan perwujudan dari hasil pemahaman dan pembelajaran masyarakat
Minangkabau terhadap alam sekitar. Jika kita teliti dalam mengamati dan
mendalaminya, maka kita akan menemukan kearifan local masyarakat Minangkabau.
Jika dilihat secara
fisik arsitektur rumah gadang menunjukkan bahwa ada keselarasan adaptasi
terhadap lingkungannya. Atapnya yang lancip merupakan adaptasi terhadap kondisi
alam yang tropis. Dengan alat lancip dipercaya air tidak akan mengendap. Maka
dari itu walaupun hanya terbuat dari ijuk yang berlapis- lapis, rumah gadang
tidak akan bocor. Demikian juga dengan arsitektur gadang yang membesar keatas.
Tujuannya adalah supaya bagian dalam rumah tidak basah karena dampak air hujan
yang dibawa oleh angina
Bentuk rumah yang
berkolong juga tidak semata-mata untuk menghindari serangan binatang buas.
Tetapi juga sebagai bentuk adaptasi pada kondisi alam tropis yang panas. Kolong
yang tinggi membuat penghuninya bisa merasakan udara segar. Selain itu, desain
rumah gadang yang memanjang dari utara ke selatan kan menghindarkan penghuninya
dari panas matahari dan tiupan angina secara langsung. Dapat dikatakan bahwa
desain rumah gadang merupakan perwujudan kearifan lokal masyarakat yang
mengandung nilai-nilai kesatuan, keselarasan, dan keseimbangan dengan alam.
Selain itu rumah
gadang adalah media untuk mewariskan nilai-nilai adat Minangkabau. Lewat rumah
gadang kelakuan para kerabat diatur, seperti, kesponan, tata pergaulan, cara
makan dan bagaimana cara berkomunikasi dengan sesama anggota kaum ataiupun pihak luar. Selain itu, fungsi utama
dari rumah gadang adalah sebagai symbol untuk menjaga sistem buadaya sistem kekrabatan dari garis
ibu. Melalui rumah gadang, orang-rang Minangkabau menjamin kelestarian sistem
kekerabatan tersebut.
4.
KESIMPULAN
Dalam
melakukan proses membangun rumah gadang, masyarakat Minangkabau tidak melupakan
kewajiban yang sudah ditetapkan oleh adat istiadat Minangkabau yang sebelumnya,
yaitu dengan melakukan pelaksanaan upacara. Dengan pelaksanaan upacara ini,
mereka percaya bahwa dalam pembangunan rumah ini tidak akan terjadi bencana,
dan dalam penemapatannya akana membawa keberuntungan dan kenyamanan bagi
penghuninya. Upacara ini sekaligus dapat melestarikan adat istiadat
Minangkabau.
Rumah Gadang
merupakan arsitektur yang memanfaatkan iklim atau cuaca dalam usahanya untuk
menciptakan kenyamanan bagi penghuninya. Dalam hail ini, rumah gadang cocok
untuk ditempatkan di iklim tropis. Hal ini bisa dilihat dari bentuk bangunannya
yang memperhatikan curah hujan dan penghawaan.
DAFTAR PUSTAKA
24 Maret 2015
24 Maret 2015
24 Maret 2015
24 Maret 2015
27 Maret 2015
http://www.academia.edu/606055/Kearifan_Lokal_Sistem_Bangunan_Rumah_Tradisonal_Minangkabau_Terhadap_Reduksi_Bahaya_Gempa 27 Maret 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar